Tigaraksa, Brigadenews.co.id – Kemarau panjang yang melanda wilayah Tangerang mulai menekan daya tahan hidup warga di tingkat tapak. Sebanyak 150 kepala keluarga (KK) di Kampung Rancahaur, RT 02/RW 01, Desa Malang Nengah, Kecamatan Pagedangan, kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS CC) bersama Kodim Tigaraksa pun bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih, Selasa (28/7/2026).
Proses penyaluran yang dimulai pukul 16.00 WIB ini melibatkan aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan pemuda setempat. Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Malang Nengah Tata Suharta, Babinsa Serda Hendra, Ketua RT 02/01 Wawan, serta Ketua Pemuda Kampung Rancahaur Iwan.
Babinsa Desa Malang Nengah, Serda Hendra, menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam operasi tanggap darurat ini merupakan wujud nyata komitmen pengabdian kepada rakyat. “Kami berkoordinasi intensif dengan BBWS, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar. Ini adalah bagian dari tugas kami di wilayah binaan,” ujar Serda Hendra di lokasi.
Danramil 03/Legok, Mayor Inf. Khoiril Anwar dalam keterangan terpisah mengapresiasi respons cepat BBWS Ciliwung Cisadane. Ia menyebut sinergi antara Kodim, pemerintah daerah, dan instansi teknis menjadi faktor penentu keberhasilan percepatan penanganan bencana hidrometeorologi.
”Koramil akan terus mendukung penuh kegiatan kemanusiaan semacam ini agar masyarakat tetap memperoleh akses layanan optimal, terutama saat musim kemarau masih berpotensi berkepanjangan,” jelasnya.
Kepala Desa Malang Nengah, Tata Suharta, mengakui bahwa bantuan ini menjadi oksigen bagi warganya yang dalam sepekan terakhir mengeluhkan sumur-sumur kering.
“Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini benar-benar meringankan,” katanya.
Ketua RT setempat, Wawan, bahkan berharap jadwal distribusi air bersih dapat terus diagendakan selama musim kering belum berakhir.
Sementara itu, Ketua Pemuda Kampung Rancahaur, Iwan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan semangat gotong royong dalam membantu kelancaran distribusi.
Kegiatan ini menjadi cermin sekaligus kritik bahwa ketahanan air di wilayah penyangga ibu kota masih rapuh.
Saat kolaborasi antarinstitusi menjadi satu-satunya penyelamat darurat, pemerintah daerah sudah sewajarnya mengevaluasi ulang kebijakan konservasi air dan infrastruktur jangka panjang, agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan logistik musiman.
tris














