Tigaraksa, Brigadenews.co.id – Pagi itu, Jalan Raya Cikande tidak seperti biasanya. Puluhan personel berseragam loreng berbaur dengan petugas kebersihan dan warga setempat, cangkul, sekop, dan sapu lidi bergerak bersama di sepanjang jalur utama Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang.
Satgas sampah Kodim 0510/Tigaraksa menggelar operasi pembersihan sampah skala besar sebagai bagian dari program Satgas Sampah yang melibatkan tiga unsur sekaligus: TNI, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), dan masyarakat. Rabu (1/4/2026).
Kegiatan berlangsung selama tiga jam, dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB dengan peralatan yang jauh dari canggih, namun efektif. Truk sampah, cangkul, dan sapu lidi menjadi senjata utama membersihkan tumpukan yang sebelumnya mengotori jalur ramai itu.
Di balik pelaksanaan teknis itu, ada nama yang bertanggung jawab penuh: Letkol Inf Yudho Setyono, S.H., Komandan Kodim 0510/Tigaraksa. Eksekusi lapangan dipimpin Kapten Triyadi, Danramil 13/Cisoka, sosok yang familiar di tingkat komunitas.
Situasinya tidak sesederhana aksi bersih-bersih biasa. Berdasarkan keterangan internal yang diterima, kegiatan ini merupakan bagian dari pola pembinaan teritorial TNI AD melalui pendekatan komunikasi sosial dan kerja sama lintas sektor. Dalam konteks ini, kehadiran militer bukan untuk dominasi, melainkan untuk mendorong keterlibatan sipil.
Di sisi lain, partisipasi warga yang cukup aktif menjadi catatan tersendiri. Indikasi awal menunjukkan adanya respons positif dari masyarakat, sesuatu yang tidak selalu bisa diasumsikan dalam program serupa di daerah lain.
Namun, pertanyaan yang menjadi sorotan adalah keberlanjutannya. Satu kali operasi bersih-bersih tidak otomatis menyelesaikan masalah struktural pengelolaan sampah. Kodim 0510/Tigaraksa tampaknya sadar akan hal itu, mereka menegaskan akan melanjutkan pemantauan rutin melalui para Babinsa di wilayah binaan, mencegah tumpukan kembali terbentuk.
Ke depan, jajaran Kodim dan unsur pemerintah daerah berencana menggenjot intensitas sosialisasi kepada masyarakat. Targetnya jelas: kesadaran kolektif yang tidak bergantung pada kehadiran seragam loreng setiap kali sampah menumpuk.
Area yang pagi itu sempat penuh tumpukan kini bersih dan tertata. Tapi yang lebih penting dari hasil fisik itu adalah apakah pola ini bisa bertahan tanpa harus menunggu operasi berikutnya.
Sumber Kodim 0510/Tigaraksa














