Seorang Anak Tak Terima Ibunya Dituduh Mencuri Prabot Rumah Tangga

Natalia Suhendrik (kiri) bersama penasehat hukumnya paparkan perkara yang menimpa ibunya Sie Swie Nio di Polsek Semarang Utara. (Foto dok.Tribun Jateng)

SEMARANG, BRIGADENEWS.CO.ID – Kasus perceraian berujung tindak pidana. Inilah yang dialami Natalia Suhendrik warga Tanah Mas, Semarang Utara.

Dilangsir dari TribunJateng.com, seorang ibu yang bernama Sie Swie Nio dilaporkan oleh mertuanya ke Polsek Semarang Utara. Ibu kandung Natalia Suhendrik dituding mencuri perabot rumah tangga di rumah tinggalnya yang berada di perumahan Tanah Mas.

Natalia menuturkan saat rumah tangganya di ujung tanduk, sang suami mengusirnya bersama kedua anaknya yang masih berusia 2 tahun dan 8 bulan dari rumah pada bulan Juni 2020 lalu.

Suaminya juga menyuruh agar perabot rumah tangganya dibawa keluar. “Intinya tidak mau melihat saya di rumahnya,” ujarnya saat meminta bantuan hukum di kantor Law and Justice, Semarang, Kamis (21/01/2021).

Tidak hanya diusir, dia juga digugat cerai oleh suaminya. Sampai pada akhirnya dirinya meninggalkan rumah karena mendapatkan perlakuan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suaminya. “Saya meninggalkan rumah pada (22/9/2020). Saya hanya membawa pakaian dan anak-anak. Saya tidak tahu mau pergi kemana,” tuturnya.

Setelah beberapa bulan, dia mendapat rumah kontrakan.

Kemudian saat berada rumah kontrakan tersebut dirinya mendapat panggilan dari Polsek Semarang Utara karena dituding mencuri perabot rumah tangga di rumahnya lama.

“Saya dituding mengambil tempat tidur bayi, kompor gas, tiga tabung gas, mesin cuci, sofa, spring bed, AC, lemari es, rice cocker, dan dispenser, dengan total Rp 43 juta,” jelasnya.

Namun sangkaan dari kepolisian disangkalnya. Ia membuktikan bahwa barang-barang tersebut dibelinya saat pernikahan. “Barang itu ada yang saya bawa sebelum pernikahan. Ada juga yang diberi orang tua suami saya, dan ada juga yang dibeli saat pernikahan,” pungkasnya.

Akan tetapi pada (24/12/2020), kata dia, secara tiba-tiba terjadi penangkapan dan penahanan ibunya dengan tuduhan pencurian.

Baca Juga :  Kapolres Karawang Pimpin Anev Rutin Terkait Guankamtibmas Diwilayah Karawang

Barang yang dituding dicuri ibunya berupa seprei, kasur, AC dan dispenser, dengan total Rp 12 juta. “Kasus ini yang melaporkan adalah mertua saya,” imbuhnya.

Dikatakannya, perkara tersebut dia telah meminta untuk dilakukan mediasi. Namun hingga saat ini belum mendapat undangan mediasi.

“Ibu saya tidak mengambil apapun. Karena tidak mungkin barang seberat itu diberesin sendiri. Yang memberesin kan kuli,” tutur dia.

Ia menuturkan jumlah nominal dan barang yang dipersangkakan ke ibunya pada kasus pencurian tersebut tidak sebanding dengan harga baru.

Dirinya berharap ibunya dapat dibebaskan. “Saya minta ibu dibebaskan karena yang mengambil barang saya bukan ibu saya,” tukasnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum Natalia, Adrie Sukma Wardhani menuturkan ada kejanggalan dalam perkara tersebut.

Penahanan ibu kandung kliennya dilakukan tanpa ada klarifikasi.

“Urusan ini merupakan urusan rumah tangga kenapa tidak dimediasi dulu. Kan ada restoratif Justice dan bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ucap Sukma.

Ia mengatakan kerugian ditimbulkan tidak sebesar yang disangkakan.

Tidak hanya itu, hasil analisanya juga terdapat kejanggalan pada penanganan kasus tersebut.

“Kejanggalannya setelah penangkapan, keluarganya tidak diberi Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP). Menurut aturan Kapolri seharusnya diberi SPDP terlebih dahulu,” tandasnya. (*/er/tribunjateng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.