Miris, Warga Tangsel Di Pondok Aren Tinggal Dirumah Jauh Dari Layak

TANGSEL, Brigadenews.co.id – Jelang masa akhir jabatan Airin Rachmi Diany bersama Benyamin Davnie selama dua periode memimpin wali kota Tangerang Selatan (Tangsel) dengan sejumlah prestasi. Namun masih ditemukan warga Pondok Aren yang tinggal di rumah jauh dari layak.

Sejak di tinggal orangtuanya Hanapi almarhum, Ningsih (46) bersama adiknya Ridwan (41) dan anaknya Siti Nur Soleha (10) warga yang tinggal dilingkungan RT 005/005 Kelurahan Pondok Aren Kecamatan Pondok Aren Kota Tangsel, harus bertahan hidup tinggal ditengah kesulitan merebaknya Covid 19.

Cerita pilu ini, terucap dari wartawan senior Abah Ade Sambuaji menuturkan, dirinya kecewa dengan sikap pemerintah yang tak peka dalam memperhatikan kondisi masyarakatnya. Padahal letaknya di pinggir jalan raya dan tak jauh dari kantor Kelurahan Pondok Aren.

“Masa sih aparatur pemerintah hingga ke tingkat RT dan RW tidak peka dengan kondisi rumah yang memprihatinkan. Sedangkan Ibu Airin selaku Walikota sangat memprioritaskan kesehatan warganya untuk tinggal di rumah yang layak,”ungkapnya.

Diketahui tahun 2020 Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta), telah menganggarkan Rp 22 miliar untuk Program rumah umum tidak layak huni (RUTLH) targetnya sekitar 300 rumah.

Belum lama masyarakat kota Tangsel, telah melaksanakan pesta demokrasi untuk memilih calon walikota di periode ke tiga dapat melanjutkan apa yang dilakukan ibu Airin di masa akhir jabatannya.

“Saya yakin ibu Airin selaku Walikota akan kecewa bahkan menangis bila mengetahuinya. Sepertinya mereka butuh bantuan Kita, dan Insta Allah, saya akan mengajak berbagai pihak untuk meringankan beban mereka,”kata Abah Ade

Saat ditemui, rumah keluarga Ningsih berdiri diantara bangunan gedung pondok pesantren Al Barkah Al Islamiyah milik yayasan. Berdindingkan tembok dan atapnya bocor dimakan usia tanpa daun pintu.

Baca Juga :  Ketua RW Arinda Permai Warsito, Meminta Agar Warga Terima Jumantik Periksa Rumah

Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Ningsih mengaku harus mengatur pemberian suaminya yang serba terbatas, “Alhamdulilah masih ada sisa dari uang sumbangan (Solawatan) waktu bapak saya meninggal,”ucapnya. (Trisno).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.