Benyamin-Pilar Dikeroyok Dua Penantang, Masih Bisa Menang ?

Deni Iskandar. (foto.Dok)

BRIGADENEWS.CO.ID – Kontestasi Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) yang akan berlangsung pada 9 Desember 2020 nanti. Selain menjadi ajang ‘merebut’ dan ‘mempertahankan’ kekuasaan politik. Juga akan menjadi ajang, Pertama, ‘Pertaruhan Citra’ kepemimpinan Airin Rachmi Diany, sebagai Walikota Tangsel selama 2 periode, Kedua, ‘Pertaruhan Citra’ kepemimpinan Airin Rachmi Diany sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Tangsel, dan Ketiga, ‘Pertaruhan Citra’ Airin Rachmi Diany sebagai bagian dari Keluarga Besar ‘Rau’, salah satu gerbong politik di Provinsi Banten.

Sadar atau tidak, sejak Tangsel berdiri menjadi sebuah Kota di Provinsi Banten. Airin Rachmi Diany adalah orang pertama, yang menjabat sebagai Walikota di Tangsel. Terlepas, sosok perempuan berparas cantik, berbadan tinggi dan murah senyum itu sebelumnya, pernah gagal menjadi Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang. Namun yang perlu dicatat bahwa, Airin Rachmi Diany saat ini adalah sosok perempuan yang berhasil menjadi orang nomor satu di Tangsel, selama 10 tahun.

Ini artinya, sosok Airin Rachmi Diany sendiri di Tangsel sudah sangat dikenal oleh masyarakat di Tangsel. Maka, pada konteks politik Pilkada Tangsel ini, bisa dikatakan bahwa, sosok Airin Rachmi Diany ini merupakan bagian dari juru ‘Kunci’ atau penentu arah angin, bagi kemenangan pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan di Pilkada Tangsel 2020 ini. Sebagai pasangan calon (Paslon) yang diketagorikan sebagai bagian dari Paslon Pertahana. Pada Pilkada Tangsel 2020 ini, pasangan Benyamin-Pilar merupakan Paslon yang diusung oleh partai Golkar.

Diketahui, pada Pemilu 2019 lalu, Golkar merupakan partai politik (Parpol) pemenang pemilu di Tangsel. Hal itu dibuktikan dari perolehan kursi legislatif (DPRD) yang mencapai 20 persen. Sejatinya tanpa adanya dukungan dari tiga tiga Parpol seperti PPP, Gelora maupun PBB) sekalipun. Golkar secara komposisi politik sudah bisa mendaftarkan pasangan Benyamin-Pilar, sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota, seperti diatur dalam UU No 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada.

Pandangan seperti ini, tentu saja tidak bermaksud men-diskredit-kan atau menganggap tiga Parpol pendukung Benyamin-Pilar di Pilkada Tangsel ini, tidak penting atau tidak berpengaruh. Pandangan ini hanya menghadirkan perspektif secara regulasi, yang menjadi aturan main dalam Pilkada, bahwa faktanya seperti demikian. !

Selain itu, majunya pasangan Benyamin-Pilar di Pilkada Tangsel ini juga, harus dilihat sebagai bagian dari upaya memperpanjang dan mempertahankan kekuasaan politik Gerbong ‘Rau’. Ini terlepas dari seorang Benyamin Davnie, yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Walikota Tangsel selama 2 periode mendampingi Airin Rachmi Diany, saat ini maju menjadi calon Walikota Tangsel berdampingan dengan Pilar Saga Ichsan, yang menjadi calon wakilnya nanti di Kota Tangsel.

Baca Juga :  Ucapkan Terima Kasih Nenek Neti Terharu Rumahnya Dibangun Polisi

Siapa yang menjadi bagian dari ‘Klan’ atau ‘Trah’ Gerbong ‘Rau’. ?Jawabannya tentu saja adalah, Pilar Saga Ichsan, yang saat ini maju menjadi calon Wakil Walikota di Pilkada Tangsel. Secara ‘Klan’ hubungan antara Airin Rachmi Diany dengan Pilar Saga Ichsan, adalah hubungan keluarga besar. Sebagai seorang istri Tubagus Chairu Wardana (TCW), hubungan antara Pilar dengan TCW adalah keponakan. Pilar Saga Ichsan merupakan anak kandung Ratu Tatu Chasanah, yang itu merupakan Kaka kandung TCW.

Dalam istilah orang Pandeglang, hubungan seperti ini disebut, ‘aya patula, patalina. Kabeh saling ngait baraya’ (ada keterkaitan/ada hubungan kekerabatan keluarga dan saudara). Melihat ‘Klan’ di atas tadi, maka dapat disimpulkan bahwa, pasangan Benyamin-Pilar yang saat ini akan ikut berkontestasi di Pilkada Tangsel, merupakan bagian dari kelompok ‘Rau’.

Meskipun sosok Pilar Saga Ichsan ini, bisa disebut sebagai orang baru di Tangsel. Namun, yang perlu dicatat bahwa, Pilar sendiri adalah adik ipar Airin Rachmi Diany, keluarga besar ‘Rau’ sekaligus kader ideologis Golkar. Oleh karenanya, untuk dapat mempertahankan kekuasaan dan kemenangan di eksekutif, semua kader, Loyalis sampai simpatisan partai Golkar, sejatinya harus bisa tegas lurus, pada semua keputusan yang sudah ditetapkan partai Golkar. Begitu juga dengan Airin Rachmi Diany, tentu harus turun gunung untuk memenangkan pasangan Benyamin-Pilar di Pilkada Tangsel ini.

Oleh karena itu, bila melihat uraian di atas maka, menang atau kalahnya pasangan Benyamin-Pilar di Pilkada Tangsel 2020 nanti, sejatinya akan menjadi ‘Pertaruhan Citra’ Kepemimpinan Airin Rachmi Diany, baik sebagai sosok Walikota Tangsel, Ketua DPD II Golkar Tangsel maupun sebagai kelompok ‘Rau’ yang saat ini, sedikit banyaknya telah memberikan kontribusi pembangunan di Tangsel. Adapun soal baik, buruk, maksimal atau tidaknya pembangunan yang sudah berjalan dibawah kepemimpinan Airin Rachmi Diany, biarkan masyarakat Tangsel yang menilai.

Ambisi Para Penantang

Secara resmi, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Tangsel, memang belum menetapkan Paslon di Pilkada Tangsel. Namun demikian, saat ini masyarakat Tangsel sendiri sudah mengetahui bahwa, hanya akan ada tiga Paslon yang akan ikut berkontestasi di Pilkada Tangsel 2020 nanti. Selain Benyamin-Pilar, juga ada pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati dan pasangan Siti Nur Azizah- Ruhamaben, yang saat ini menjadi penantang.

Pada kontestasi Pilkada Tangsel 2020 ini, dua pasangan ini, pada dasarnya tidak bisa diremehkan. Hal ini terlepas dari persoalan ‘Klan’atau ‘Trah’. Bila melihat konfigurasi politik dua Paslon ini, tentu saja, semua sepakat dan sah berpandangan bahwa, dua dukungan parpol yang diberikan kepada dua Paslon ini, tidak pernah menang di Tangsel, dalam setiap momentum Pilkada, sejak Tangsel berdiri menjadi sebuah Kota di Provinsi Banten.

Baca Juga :  Peringati HUT RI Ke-75, Polsek Patrol Bersama Koramil 1614/Anjatan Gelar Bakti Sosial Serentak

Seperti misalnya pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati, yang saat ini diusung oleh PDI Perjuangan dan Gerindra, serta di dukung oleh, PAN, Hanura, NasDem, Perindo, dan partai Garuda. Belakangan ada informasi bahwa, PSI juga akan memberikan dukungan kepada pasangan ini. Namun yang perlu dicatat bahwa, PDIP dan Gerindra di Tangsel sendiri belum pernah menang pada setiap momentum Pilkada di Tangsel.

Namun demikian, lain dulu lain sekarang. Bila melihat konfigurasi politik parpol pengusung Muhamad-Rahayu Saraswati saat ini, tentu saja dua parpol (PDIP-Gerindra) ini merupakan partai yang sedang kuat-kuatnya. Bisa disebut di Tangsel sendiri, dua parpol ini merupakan parpol pemenang kedua di pemilu 2019, setelah Golkar.

Oleh karenanya, tidak bisa dipungkiri bahwa, pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati pada Pilkada Tangsel ini, sangat bisa berpotensi menang dan bisa merebut kekuasaan di Tangsel. Apalagi bila melihat pamor dan sosok Rahayu Saraswati, yang saat ini secara finansial maupun secara ‘Trah’ juga ‘Ningrat’. Selain lahir dan besar dari keluarga besar pengusaha. Perempuan bermata sipit, berambut panjang, dan berkulit putih mulus itu juga adalah, keponakan Prabowo Subianto, mantan Calon Presiden (Capres) RI, yang saat ini juga duduk sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) di Kabinet Indonesia Maju.

Selanjutnya, pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamaben, yang juga merupakan bagian dari penantang Benyamin-Pilar. Meskipun sama seperti Pilar dan Rahayu Saraswati yang tergolong orang baru di Tangsel. Sosok SNA, singkatan Siti Nur Azizah, tidak bisa dianggap sebelah mata.

Bicara soal SNA tentu saja, Selain bicara soal KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI di Kabinet Maju, juga tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang SBY. Sekalipun saat ini tampuk kepemimpinan partai Demokrat sudah berganti ke AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) putra kandungnya. Namun bicara soal Demokrat, bayang-bayang SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) masih belum bisa lepas dari partai berlambang Mercy tersebut.

Disisi lain, kekuatan PKS salah satu partai pengusung, maupun PKB partai pendukung pasangan SNA-Ruhamaben juga, tidak bisa dianggap sebelah mata. Bila melihat komposisi PKS di Tangsel. Parpol berbasis Islam kenanan-kanan itu, merupakan partai pemenang Pemilu 2019. Partai ini dalam setiap momentum Pemilu di Tangsel, selalu mendapatkan perolehan kursi di legislatif, secara signifikan. Bahkan pada pada Pemilu 2019 lalu, kenaikannya bisa disebut signifikan.

Baca Juga :  Himbau Karyawan Indomart Polsek Jatisari Ajak Jaga Kamtibmas

Begitu juga dengan PKB, partai ini lebih dikenal sebagai partainya orang-orang Nahdhatul Ulama (NU). Meskipun secara politik NU bukanlah partai politik. Harus diakui bahwa, PKB pada Pemilu 2019 di kota Tangsel mengalami kenaikan perolehan kursi, meskipun tidak se-signifikan PKS. Namun, yang perlu dicatat bahwa, sosok SNA sendiri mau ditarik dan diputer kemana pun, Ia adalah tokoh perempuan NU. Ia juga adalah anak seorang Kiai yang saat ini benar-benar di tokohkan di NU.

Mau seperti apa ‘Track’ KH. Ma’ruf Amin di politik dan di Banten sendiri, namun Ia sendiri adalah tokoh NU. Sebaliknya, mau bagaimana pun ‘tidak tertib’-nya orang-orang NU, biasanya, ketika seorang Kiai NU memberikan nasihat, saran maupun arahan, pasti akan mendengar dan ikut perintah Kiai. Hal itu juga, meskipun tidak semua, namun berlaku pada pilihan politik. Namun demikian, menurut pandangan saya pribadi, koalisi parpol ditubuh pasangan SNA-Ruhamaben ini, bukanlah perkawinan antara umat Islam NU dan PKS.

Namun demikian, karena politik selalu berjalan dinamis. Maka semua kemungkinan-kemungkinan pasti selalu akan terjadi. Bisa saja, sekalipun saat ini tidak ada perkawinan antara NU dan PKS, ditengah jalan, kondisi itu bisa terjadi. Sebab, berdasarkan fakta, pada perhelatan Pilkada Tangsel saat ini, rival menjadi kawan, dan sebaliknya.

Seperti misalnya posisi Arsid. Seharusnya, Arsid mendukung pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati, sebab mau bagaimana pun Arsid, Ia adalah kader PDI Perjuangan, yang pada Pilkada Tangsel ini mengusung Paslon. Namun, fakta tersebut tidak terjadi demikian. Bahwa ada asumsi semua parpol pendukung maupun pengusung, saat ini masih belum solid dan pecah-pecah, itu sangat mungkin terjadi.

Pada perhelatan Pilkada Tangsel 2020 ini, sejatinya belum bisa ditentukan dan dipastikan pasangan calon mana yang akan menang. Adapun soal ada prediksi bahwa ada Paslon yang kuat, itu sangat sah, karena semuanya bisa diukur. Ini terlepas dari banyaknya data survei soal popularitas maupun elektabilitas.

Semuanya masih akan bisa berubah. Artinya, ramping atau gemuknya koalisi parpol di Pilkada Tangsel ini, sejatinya tidak menjadikan sebuah ukur pada kemenangan Paslon tersebut. Semuanya masih bisa berubah ditengah jalan. Bisa saja koalisi parpol yang gemuk itu kalah. Karena sejatinya, peta perpolitikan di Indonesia terkhusus di Pilkada Tangsel ini, penuh dengan GIMIK. Sekian……. !

Deni Iskandar
Direktur Utama Indonesian Of Social Political Institute (ISPI). Ketua HMI Cabang Ciputat, Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah, Periode 2018-2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.