Natalius Pigai Menyangsikan Kesimpulan Polisi Tentang Peristiwa di Wamena

JAKARTA, BRIGADENEWS.CO.ID – Korban Rasial dan Aktivis Kemanusian, Natalius Pigai menyangsikan kesimpulan Polisi tentang peristiwa Wamena.

Menurutnya, masalah di Papua itu karena aparat tidak mampu menunjukkan persoalan sebenarnya. Aparat lebih banyak berpolitik praktis di Papua.

Sebenarnya problem hari ini adalah Kasus rasisme, namun aparat alihkan soal separatisme. Kasus hari ini adalah pecahnya puncak gunung Es atas kebencian akut seluruh orang Papua baik berasal dari Wamena Baliem, Wamena Barat, Pesisir Papua Utara, Selatan, Papua Barat semua orang Melanesia bersatu mengusir pendatang.

“Tapi polisi mengatakan bukan orang Papua. Sebagai pembela kemanusiaan kita melihatnya sangat heran. Kesimpulan semacam ini menyimpang dari tugas polisi sesuai kewenangan yang diberikan berdasarkan UU nomor 2 tahun 2003. Aparat kepolisian cenderung untuk berpolitik praktis,” kata Natalius Pigai, dalam keterangan kepada wartawan, Senin (30/9/2019).

Sangat aneh bin ajaib, kata Pigai, sudah sangat jelas karena kebencian akut atas perilaku aparat yang sering peralat kelompok pendatang sipil yang tidak berdosa sebagai informan dan mitra.

Aparat, bahkan pendatang sipil tidak berdosa dijadikan kelompok milisia melakukan kekerasan membacok dan bunuh rakyat Papua terang-terangan.

Selain itu, aparat juga membiarkan perilaku-perilaku patologi sosial berkembang di Papua seperti jual minuman keras, penjaja seks komersial, membiarkan Togel merajalela.

“Aparat tidak pernah netral dan lebih cenderung melindungi pendatang ketika persoalan hukum yang melibatkan rakyat Papua,” kata pigai.

Berbagai tekanan dan teror yang selalu dihadapi rakyat Papua makin lama kebenciannya makin menumpuk.

Sifat-sifat segregatif yang dipertontonkan aparat seperti ini sebenarnya praktek-parket rasialisme dan apartheid yang pernah dilakukan di negara-negara lain pada abad ke-20 ke bawah.

“Di negara ini negara ini masih mempraktekkan tindakan-tindakan yang cenderung segregatif rasial,” ujar Natalius Pigai.

Baca Juga :  Peringati Maulid Nabi Muhammad Saw 1441 H/2019 M, Dilanud SIM, Ini Penjelasan DanLanud SIM

“Kalau mau membantu negara kerjakan profesional agar kepercayaan rakyat Papua bisa pulih,” tambahnya.

Bangsa Melanesia ini orang-orang jujur dan apa adanya. Jadi, ketika negara bertindak jujur dan apa adanya maka rakyat pasti menghormati.

“Tetapi kalau tidak jujur maka sudah pasti mereka marah,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (29/9) yang lalu, menyebutkan pelaku pembakaran saat kerusuhan di Wamena, Papua bukan penduduk asli. Penduduk Lembah Baliem, penduduk asli Wamena, justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja.

“Pelaku mencari korban tidak ditujukan ke etnis tertentu, tapi membabi buta,” kata Irjen Pol Muhammad Iqbal. (er)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.