Prime topic “Ayo Panen Air” Musim Kemarau, Masyarakat Menghabiskan 53 Juta Untuk Pengadaan Air Bersih

Semarang, Brigadenews.co.id – Kekeringan tengah melanda beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah. Menyebabkan beberapa keluhan masyarakat yang mengalami dampak kekeringan tersebut. Dampak gagal panen merupakan ancaman serius masyarakat.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Jawa Tengah, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan September 2019 mendatang. Ada 1.259 desa dan 360 kecamatan yang terdapat di 31 kabupaten/kota se Jawa Tengah akan mengalami dampak bencana kekeringan di tahun 2019. Dengan jumlah jiwa lebih dari 2 juta dan 545.851 kepala keluarga.

Dengan kondisi yang seperti itu, menurut anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah, M. Ngainirricardl, diperlukan solusi yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam penanganan dampak bencana tersebut oleh pemegang kebijakan/pemerintah daerah.

“Beberapa waktu lalu di Wonogiri musim kering seperti ini, beberapa warga menjual kerbau dan emas untuk membeli air ketika musim kemarau untuk mencukupi air bersih. Masyarakat ada yang menganggarkan sampai Rp 53 Juta,” ungkap M. Ngainirricardl dalam Prime Topic. Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah bekerjasamsa dengan Trijaya FM, dengan Tema Ayo Panen Air,di ruang Bahana Hotel Noorman Semarang, Rabu, (17/7/2019).

Jadi harus ada solusi, lanjut M. Ngainirricardl, yaitu perencanaan terintergrasi antar dinas dan antar lembaga. Dan tidak hanya tergantung pada anggaran pemerintah namun juga bisa melibatkan swasta, untuk memfasilitasi adanya tempat penampungan air hujan di masing – masing rumah. Terutama desa prioritas yang sudah bertahun- tahun mengalami kekeringan disaat musim kemarau.

Selain itu, saat Panen air itu perlu adanya pengadaan tempat penyimpanan air, dengan memperbanyak waduk, embung dan tempat-tempat penyimpanan air yang bisa digunakan jangka panjang di beberapa desa yang terdampak kekeringan. Oleh sebab itu, bagaimana membuat kebijakan pembangunan itu tidak hanya sekedar proyek saja. Tapi harus memperhatikan betul bagaimana mengatasi dampak kekeringan.

Baca Juga :  Kunjungan ke Panti Asuhan Warnai Peringatan ke-72 Hari Bakti TNI AU di Lanud Halim P.

“Saat ini, ada proyek regional dengan nilai Rp 1,95 triliun. Tetapi, kalo saya lihat DED nya, tidak bisa mengatasi kekeringan di wilayah Wonogiri,” tandas Ngainirricardl.

Dengan kritikan yang disampaikan oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah tersebut, diharapkan pihak pemangku kebijakan melakukan langkah – langkah atau upaya konkrit, dalam mengatasi dampak kekeringan yang dialami oleh masyarakat Jawa Tengah. Namun sayang, pihak pemerintah daerah Jawa Tengah melalui Kepala Dinas Pusdataru Jawa Tengah, Ir. SR. Eko Yunanto, hanya menceritakan batas – batas wilayah pengelolaan air di Jawa Tengah dan istilah – istilah “Warung Jamu”.

“Istilahnya dulu “Warung Jamu”. Biar akronimnya enak sampai kapanpun kita ingat terus,” kata Eko Yunanto menanggapi kritikan dari anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah di Prime Topic, Ayo Panen Air.

Paparan selanjutnya, terkait solusi kekeringan di wilayah Provinsi Jawa Tengah, disampaikan oleh Prof. DR. Ir. S. Imam Wahyudi Dea, Ketua Program Doktor Teknik Sipil & Kepala Puslit Delta Center On Climate Cange Unissula. Yaitu, bagamaimana menggerakan masyarakat untuk membuat sumur resapan, biopori atau penampungan-penampungan yang nantinya bisa digunakan saat dibutuhkan.

“Gerakan ini yang perlu ditingkatkan sebagai solusi yang efektif. Tinggal pola dan sistemnya bagaimana, mari kita bicarakan bersama agar masyarakat memiliki solusi. Agar kedepan panen air itu bisa dikembangkan,” papar Imam Wahyudi Dea.

(Abdul Sakur/Absa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.